A STORY OF THE GIRL AND HER DAYDREAMING #2

[A Sheet of Paper]
-2-

Lepas


Prolog: 
       (Semburat jingga menyeruak tepat diatas genangan air itu. Sejauh mata memandang hanya ada air. Air berwarna biru kehitaman dan beberapa gradasi oranye. Walaupun warna oranye itu tidak benar-benar menyatu diatas sana.)
     
       Mungkin waktu dan keadaan yang sempat menjadi viral dalam merasakan suatu hal yang sempat menjadi bagian yang terbilang sulit. Mulanya, sering terjadi pertikaian antara hati dan lisan. Hal yang sangat biasa, namun mematikan.
       Mematikan dalam arti menyakiti diri sendiri. Bagaimana tidak, ia sendiri yang mempersilakan seseorang untuk membuka pintu itu, namun pada akhirnya ketika pintu itu terbuka, seluruh isi hilang. Tak bersisa. Rumah tidak berisi. Kosong. Dan bahkan hancur tanpa sisa. Bahkan sampai-sampai hanya debu yang ada.
       Perih. Sakit menyayat.
       Pilu. Menyedihkan.
       Bodoh. Tidak karuan.
       Seharusnya ia sadar. Bahwa menaruh kunci pada pintu tersebut kepada seseorang yang salah akan berdampak fatal. Sangat fatal. Namun tetap saja. 
       Lagi-lagi hati yang membelanya. Hati membela si pencuri tersebut. Sedikit kesal dengan pemikiran si hati. Apa, sih maunya? Ia seperti menaruh kepercayaan penuh kepada orang yang salah. Seseorang yang sudah berkali-kali mendatangkan matapetaka itu. 
       Tetapi terkadang hati menuruti pikiran, sesekali. Pada saat sendiri, berdiam diri, mengurung diri dalam kesunyian, perlahan pemikiran menyadarkan hati dengan sabar. Lambat laun, hati sadar. Bahkan sadar sepenuhnya. 
       Bahwa sejatinya menaruh kunci kepada Sang Pemilik-lah yang paling tepat.

Epilog:
 (Setitik kebahagiaan satu per satu datang kala itu. Entah mengapa, namun seseorang ini merasa dirinya seakan lega. Entah bagaimana bisa. Padahal ia sama sekali tidak berniat untuk melepaskan. Karena ia tahu bahwa itu akan sia-sia. Namun, entah mengapa ia merasa... ini jauh lebih baik daripada biasanya. Ia harap, kelegaan ini berlaku untuk selamanya.)






5 Agustus 2017,

Mazaya Raffrabiha D.


"Aku sudah pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup dan yang paling pahit ialah berharap kepada manusia." - Ali bin Abi Thalib

Komentar

Postingan Populer