Open Your Eyes

     Hidup, memang penuh resiko.
     Menjadi seorang introvert, yang beresiko 'sedikit' susah bergaul menjadikan seseorang tidak menyukai dengan keramaian atau bahkan tak bisa mengenali dan menghadapi disetiap perbedaan pendapat, perbedaan sifat, bahkan perbedaan prinsip didalam diri orang lain.  Yang menjadikan mereka pula sedikit 'kudet' dengan apa yang terjadi didunia, bahkan dilungkungan sekitar mereka, yang tak lain mereka lebih memikirkan dan mengutamakan diri sendiri. Dan bahkan jika seorang introvert suatu hari mendapat pekerjaan yang tentu saja berpacu pada seseorang (bekerja kantoran) yang pasti mereka bertemu dengan orang-orang yang tentu memiliki perbedaan dengan mereka, mereka hanya bisa mengeluh, bahkan pendapat orang lain sampai dapat meruntuhkan tali persaudaraan.

     Pun sama halnya dengan menjadi seorang extrovert, yang beresiko mereka mempunyai banyak teman yang tentu saja, berbeda-beda dalam banyak hal; dari segi sifat, bawaan, pendapat, prinsip, ilmu, ideologi, dsb. Yang mau tidak mau, mereka harus berusaha, bahkan bertarung atau berlawan dengan mereka yang tentu saja memiliki pendapat yang jauh berbeda dari apa yang mereka pikirkan. Simpelnya dalam berforum. Memang banyak sekali tipe-tipe seseorang dalam mengemukakan pendapat.

     Banyak dari mereka yang berterus terang dan ada dari mereka yang perlu melihat dan mempelajari masa lalu atau melihat sekitar untuk mendapatkan ide atau bahan yang akan dipresentasikan. Ada juga dari mereka yang mempunyai pemikiran 'masa depan', yang mempunyai pandangan lebih lanjut, bahkan dapat membuat inovasi baru yang tentu saja belum pernah dilakukan sebelumnya. Bahkan ada juga dari mereka yang perlu dipojokkan (dalam arti kebaikan), ada yang perlu di ingatkan oleh seseorang, baru mereka akan berpikir atau baru mereka akan bersuara, dan lain-lain.

     Menghadapi orang-orang seperti itu amat sangat harus dilandasi dengan kesabaran yang luar biasa. Ketidakadilan akan muncul kepada mereka yang merasa 'terhianati'. Hal ini perlu munculnya sosok pemimpin. Karena ia lah yang akan menjadi penengah dalam berbagai masalah. Maka dari itu, dalam suatu forum, pastilah ada pemimpin. Bahkan dalam berumah tangga pun, harus mempunyai pemimpin, bukan? 

     Ibarat sebagai kepala. Ah, bukan. Otak.
     Aktif membantu, memantau, mengatur, bahkan bisa saja menyelidiki para anggota agar mengerti seluk-beluk mereka, memberi motivasi, tak memandang rendah seseorang, tetap adil dalam memilih, dan yang terpenting, dapat mengatasi disetiap perbedaan yang ada. Yang jika hal tersebut ada pada diri seorang pemimpin, insyaAllah semua mudah. Bekerja dalam waktu singkat pun tak masalah. Karena ia dapat memekerjakan anggota dengan sangat baik. Yang tak lain, anggotanya sangat senang dengan sifatnya yang aktif, peduli, dan bijaksana. Jika kedua belah pihak merasa nyaman dan senang, masalah pun sulit untuk merobohkan mereka.

     Tapi jika sebaliknya? Sudah pasti. Suatu perkumpulan, forum, organisasi, atau istilah lainnya lama kelamaan akan hancur. Ia takkan pernah kokoh. Mereka dapat berdiri, namun sulit. Karena ketidakpeduliannya pemimpin, mempengaruhi pula dengan ketidakpedulian anggotanya. Ingin bangkit, perlu mengadakan perubahan. Turun jabatan. Turun tahta. Ganti kepala. Ganti otak.

     Namun kalau dilihat dari kepemimpinan para pemimpin sekarang, khususnya Indonesia. Mereka bagus. Mereka dapat mempekerjakan anggotanya dengan baik. Bahkan beberapa proyek besar sudah terselesaikan. Namun kebanyakan dari mereka bekerja dengan sistem yang 'salah'. Memanfaatkan hasil SDM dengan buruk. Jika dilihat, banyak sekarang pelajar-pelajar, mahasiswa-mahasiswa asal Indonesia yang belajar di negeri orang lain. Lalu pulang membawa ilmu yang banyak. Sangat bermanfaat. Namun, kebanyakan dari mereka 'terbengkalai', alhasil mereka lebih memilih untuk bekerja di negeri orang, merasa tidak terpakai di negara sendiri. Karena sistem yang 'salah'. 

     Itulah. Semua risiko. Risiko tidak memandang usia, jabatan, gender, dll. Resiko menjadi seorang introvert, ada. Resiko menjadi seorang extrovert, ada. Bahkan menjadi pemimpin pun, tentu saja ada. 

     Harapanku sendiri untuk masa depan, ingin dipimpin oleh pemimpin yang mengerti, paham, dan bijaksana dengan para anggotanya. Karena sudah lama pula kami dipimpin oleh pemimpin yang salah. Tidak dapat mengerti arti dari kata "memimpin".

     Bismillah. Teruntuk kalian yang membaca postingan ini, ayo sama-sama membangun sifat kepemimpinan dari dalam diri sendiri! Hidup memang sulit. Semua ada risiko. Namun, tak salah jika ingin terus mencoba. Contohilah para pemimpin terdahulu. Para Nabi dan Rasulullah, para Khalifah, para pejuang-pejuang. Bukan para mereka yang lebih mengutamakan diri sendiri, popularitas, bahkan jabatan. 

     Merdeka! *btw Agustus masih sebulan lagi*
     Hiduplah jiwa muda, terus bangkit, jangan patah semangat! Indonesia masih membutuhkan kalian, para generasi muda. :D

Komentar

Postingan Populer