A Story of The Girl and Her Daydreaming #1
[A Sheet of Paper]
-1-
-1-
Waktu & Keadaan
Prolog:
(Kala itu, pada awal dari musim panas. Aku tersadar pada suatu hal yang teramat menyulitkan pikiranku. Seolah-olah ia menyelubungi jiwaku dengan segenap kekuatan yang entah dari mana asalnya, yang pastinya mendekapku dengan segala energi yang dimiliki. Ingin memberontak, apa daya. Kekuatan itu seakan sudah menyerap keseluruh inti jiwaku. Dengan teramat sangat perlahan. Hingga aku tidak tersadar bahwa dinding itu telah hancur.)
Awalnya memang tidak terjadi apa-apa. Semuanya baik-baik saja.
Namun karena terlalu sering dan waktu yang terus berkelanjutan, hal itu menjadi suatu keharusan. Keharusan yang jika tidak, perasaan akan meraung-raung, meminta-minta, dan berharap banyak segala hal yang berisikan perihal tentang "kemungkinan", bukan "kenyataan."
Jika dipikir, itu tidak apa. Tidak ada kesalahan, sama sekali tidak. Tetapi, waktu dan keadaan yang terus berjalan membuat penafsiran itu berbeda. Dengan cepat dan tanpa pikir panjang, semua terlihat seperti suatu kesalahan, kekejaman, bahkan kebencian.
Hakikatnya, setiap orang memiliki penafsiran yang berbeda. Ada yang selalu didekap oleh ruang waktu dan keadaan yang seolah-olah menjadi musuh terberatnya. Dan terkadang, tak jarang pula ada orang yang tidak terkecoh atau tidak terpengaruh oleh ruang waktu dan keadaan yang menyelubungi kehidupannya.
Selamat atas mereka yang tidak terkecoh. Mereka sudah yakin dengan apa yang mereka miliki. Karena pasalnya, bersyukur dan ikhlas adalah teman hidupnya. Berbanding terbalik dengan mereka yang seolah-olah "didekap" oleh ruang waktu dan keadaan. Yang seolah-olah pula pemikiran mereka terselimuti oleh bayangan hitam yang bernamakan "penyesalan."
Terlukis jelas bahwa penyesalan akan menjadi alasan utama dalam ketidakpastian. Karena menyalahkan diri sendiri yang bodohnya tiada tara termasuk tembakan dari awal penyesalan. Bagaimanapun juga, diri sendiri yang melakukan. Semua karena kebodohan, kecerobohan, dan kesalahan yang timbul dari diri sendiri. Didalam diri setiap orang yang tengah dijungkir-balikkan oleh rasa.
Tetapi, jika ia terus menerus seperti itu?
Apakah itu termasuk kehidupan yang normal?
Tentu tidak.
Maka berterimakasihlah pada kalimat, "Jangan pernah mengulangi kesalahan untuk yang kedua kalinya." Hal itu termasuk kunci untuk menjalani hidup dengan semestinya. Karena hidup tak selamanya hanya untuk menyesali diri sendiri, seperti halnya "langkah." Jika kau tidak melangkah, kau tidak akan bisa sampai tujuan.
Sedih dengan apa yang telah dilakukan. Tetapi apa daya, kata terlanjur tidak menerima kata maaf. Bahkan sebelum kata maaf mengetuk pintu pun, kata terlanjur sudah lebih dahulu pergi dari hadapannya. Maka, tegasilah diri sendiriㅡlebih tepatnya hati. Walaupun hal itu ada hal yang teramat sulit, selama mempercayakan dan menerapkan "ikhlas lillahita'ala," tidak ada yang tak mungkin.
Epilog:
(Berharap boleh, asal tahu konsekuensi. Berharap tetapi berjuang, penyesalan akan takut untuk mendekati. Jangan pernah berhenti berjuang sebelum mencapai tujuan.)
28 Juni 2017,
Mazaya Raffrabiha D.
Komentar
Posting Komentar